Menjadi ahli dalam 20 Jam

Bagian Pertama…

Dua hari yang lalu saya berkesempatan menghadiri jamuan makan malam di salah satu resort terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di Nusa Dua Bali. Sambil menikmati beberapa sajian makanan yang lezat dan diiringi alunan musik live saya melakukan perbincangan dengan rekan yang baru saya kenal pada acara tersebut. Dia adalah seorang marketer dan penghobi musik.

Perbincangan kami berujung pada perbincangan mengenai hobi kami masing-masing, kalau saya hobinya coding alias membuat program komputer dan rekan saya itu hobinya adalah bernyanyi dan mendengarkan musik. Disela-sela perbincangan sesekali dia berbicara mengenai kualitas penyanyi live dipanggung, “penyanyi A ini suaranya bagus, penyanyi B sepertinya kesulitan dengan suara tinggi mungkin dia perokok” ujarnya.

Sebagai seorang yang aktif dalam kelompok paduan suara gereja tentu saya tidak meragukan akan keahlian dan pengetahuan bernyanyinya.

Waktupun berselang dan keesokan harinya saya harus meninggalkan Bali kembali ke Jakarta, setelah melakukan check-in saya pun bergegas menuju gate keberangkatan yang berada diujung bandara. Ternyata suasana bandara Ngurah Rai sudah begitu berbeda dibanding kunjungan saya 3 tahun yang lalu. Sepanjang lorong menuju gate keberangkatan dikelilingi dengan pertokoan layaknya pusat perbelanjaan yang menawari beragam produk mulai dari baju, farfum, makanan dan banyak lainnya dan tertata begitu rapih sehingga sangat nyaman untuk dinikmati. “Kalau seperti ini biasanya ada toko buku juga” pikir saya. Setidaknya tidak terlalu jauh berbedalah dengan bandara Changi di Singapura.

the-first-20-hours-how-to-learn-anything-fast-700x700-imadxvfpyz9cwnuhDan saya mulai melakukan pemburuan dan perkiraan saya tidak salah, langkah saya terhenti disalah satu toko yang menjual ‘Mineral Water’ dan disinilah saya menemukan apa yang saya cari ‘Rak Buku’. Tanpa menunda mata sayapun melakukan scanning kesetiap judul buku yang tersusun rapi, dan akhirnya pilihan jatuh pada buku berjudul ‘The First 20 Hours How to Learn Anything…FAST, ditulis oleh Josh Kaufman’.

“In The First 20 Hours you’ll learn how to acquire any skill in record time -and have a lot of fun along the way”.

Seperti halnya rekan saya yang ahli dalam bernyanyi, untuk menjadi seorang yang ahli tentu bukan perkara mudah dan didapatkan begitu saja. Perlu proses yang panjang, waktu, tenaga, belajar dan melakukannya secara berulang-ulang. Belajar baik secara akademi maupun otodidak dapat dilakukan. Namun bagi sebagian orang hal ini sangat memberatkan atau bahkan mereka sangat kesulitan untuk melakukannya. Buku ini mengajarkan bagaimana melakukan hal-hal pembelajaran tersebut dilakukan secara efektif dan menyenangkan.

Berikut adalah beberapa item kunci yang dijabarkan didalam buku tersebut, yaitu :

  1. Research the skill and related topics.
  2. Jump in over your head.
  3. Identify mental models and mental hooks.
  4. Imagine the opposite of what you want.
  5. Talk to practitioners to set expectations.
  6. Eliminate distractions in your environment.
  7. Use spaced repetition and reinforcement for memorization.
  8. Create scaffolds and checklists.
  9. Make and test predictions.
  10. Honor your biology.

Ok untuk hari ini saya akhiri dulu tulisan ini, pada kesempatan lain saya akan ulas  lebih jauh item kunci tersebut…ikuti terus artikelnya!

Materi ini ditulis oleh LogicFourty, Lembaga kursus komputer yang berfokus pada Software Development dan Internet Of Things.

Berlokasi di Jl. Mawar Raya No. 10 Taman Lembah Hijau Lippo Cikarang Bekasi.

Anda Pasti Bisa Bila Anda Pikir Bisa

Tahun 2016 ini sepertinya diawali dengan banyak berita yang mengejutkan. Mulai dari berlakunya MEA (saya bahas di artikel sebelumnya), tembak-tembakan, sampai pada berita tentang orang-orang yang hebat dari keterbatasannya.

Tapi yang paling menarik buat saya adalah yang terakhir itu. Orang-orang hebat karena keterbatasannya. Ini selalu menginspirasi dan layak untuk diceritakan kembali. Siapa mereka ?

Ya kalau Anda mengikuti berita beberapa minggu ini, pasti Anda tahu siapa mereka.  Tak lain yang ingin saya bahas kali ini adalah ‘Wayan’ dan ‘Kusrin’. Kedua orang yang di anggap berpendidikan rendah tetapi mampu melakukan sesuatu yang jarang orang bisa lakukan pada umumnya.

Yang pertama adalah ‘I Wayan Si Tangan Robot’,

iron-man-indonesia-bertangan-robot-buatan-sendiri-pcrba7pkj2
I Wayan si tangan robot (foto: warungkopi okezone)

 

I Wayan atau sering dipanggil Tawan adalah seorang pria berusia 31 tahun yang tinggal di Bali dan berprofesi sebagai tukang las. Dirinya mulai ramai diberitakan didunia maya dan media dimulai ketika ia memutuskan membuat sebuah lengan bantu untuk tangannya kirinya yang lumpuh. Berbekal pengetahuannya dan belajar dari literatur-literatur di Internet, tawan mencoba membuat alat tersebut yang menyerupai tangan robot.

Menurut Tawan, lengan robot tersebut dibuat dengan sebuah teknologi Electroencephalography atau EEG (lihat disini), yang memungkinkan mesin menangkap aktivitas elektrik di otak. Jadi pergerakan tangan robotnya itu dikendalikan langsung oleh sinyal-sinyal dari otak Tawan. Percaya atau tidak kalau kita lihat fotonya diatas layaklah kita juluki dia I Wayan Si Tangan Robot.

Nah yang menarik dari kisah Tawan ini terlepas apakah lengan robotnya itu bekerja seperti robot atau tidak (belum terkonfirmasi oleh ahli pada saat tulisan ini dibuat), adalah tentang latar belakang ketika dia memutuskan untuk membuat kreasinya tersebut.

Dibeberapa media menulis, ini dimulai ketika ia mengalami frustasi yang luar biasa karena tangannya mengalami kelumpuhan dan tak kunjung sembuh. Berbekal kemauan, mimpi, dan usaha akhirnya dia memulai karyanya ini. Dari berbagai barang bekas dan beberapa proses gagal, akhirnya terbentuklah si tangan robot ini.

Tawan telah menempatkan dirinya untuk memilih, memilih untuk bermimpi lebih dibandingkan terpuruk, berpikir maju dibandingkan menyerah, berpikir bisa daripada gagal. Karena sekecil apapun keahliannya, ini akan menjadikan dunia semakin berwarna dan kita layak menghargainya.

Teringat kisah diatas, saya teringat salah satu buku yang pernah saya beli pada tahun 1995, buku ini telah banyak mengubah pemikiran saya dan ini layak Anda baca.

Anda pasti bisa bila anda pikir anda bisa. Sebagaimana yang anda pikirkan, begitulah jadinya anda. Jadi, berpikirlah bahwa anda bisa maka anda pun benar-benar bisa.

images

Anda harus beli dan baca ini !

( Norman Vincent Peale)

Materi ini ditulis oleh LogicFourty, Lembaga kursus komputer yang berfokus pada Software Development dan Internet Of Things.

Berlokasi di Jl. Mawar Raya No. 10 Taman Lembah Hijau Lippo Cikarang Bekasi.

Bagaimana dengan ‘Kusrin ?’